Showing posts with label Renungan. Show all posts
Showing posts with label Renungan. Show all posts

Kisah seorang ibu yang tidak bisa melihat Ka'bah

Astagfirullah....mudah2an kita selalu dilindungi oleh Allah SWT semoga memberi manfaat untuk kita semua, amin...
meskipun sudah pernah menerima imel semacam ini, tidak ada salahnya meluangkan waktu sedikit untuk membaca kembali....

Kisah Nyata...Tujuh kali naik Haji tidak bisa melihat Ka'bah

Sebagai seorang anak yang berbakti kepada orang tuanya, Hasan (bukan nama
sebenarnya), mengajak ibunya untuk menunaikan rukun Islam yang kelima. Sarah (juga bukan nama sebenarnya), sang Ibu, tentu senang dengan ajakan anaknya itu. Sebagai muslim yang mampu secara materi, mereka memang berkewajiban menunaikan ibadah Haji.

Segala perlengkapan sudah disiapkan. Singkatnya ibu anak-anak ini akhirnya
berangkat ke tanah suci. Kondisi keduanya sehat wal afiat, tak kurang satu
apapun. Tiba harinya mereka melakukan thawaf dengan hati dan niat ikhlas menyeru panggilan Allah, Tuhan Semesta Alam. "Labaik allahuma labaik, aku
datang memenuhi seruanMu ya Allah".

Hasan menggandeng ibunya dan berbisik, "Ummi undzur ila Ka'bah (Bu,lihatlah
Ka'bah)." Hasan menunjuk kepada bangunan empat persegi berwarna hitam itu. Ibunya yang berjalan di sisi anaknya tak beraksi, ia terdiam. Perempuan itu sama sekali tidak melihat apa yang ditunjukkan oleh anaknya. Hasan kembali membisiki ibunya. Ia tampak bingung melihat raut wajah ibunya. Di wajah ibunya tampak kebingungan. Ibunya sendiri tak mengerti mengapa ia tak bisa melihat apapun selain kegelapan. beberapakali ia mengusap-usap matanya, tetapi kembali yang tampak hanyalah kegelapan. Padahal, tak ada masalah dengan kesehatan matanya. Beberapa menit yang lalu ia masih melihat segalanya dengan jelas, tapi mengapa memasuki Masjidil Haram segalanya menjadi gelap gulita.

Tujuh kali Haji Anak yang sholeh itu bersimpuh di hadapan Allah. Ia shalat memohon ampunan-Nya. Hati Hasan begitu sedih. Siapapun yang datang ke Baitulah, mengharap rahmatNYA. Terasa hampa menjadi tamu Allah, tanpa menyaksikan segala kebesaran-Nya, tanpa merasakan kuasa-Nya dan juga rahmat-Nya. Hasan tidak berkecil hati, mungkin dengan ibadah dan taubatnya yang sungguh-sungguh, Ibundanya akan dapat merasakan anugrah-Nya, dengan menatap Ka'bah, kelak. Anak yang saleh itu berniat akan kembali membawa ibunya berhaji tahun depan. Ternyata nasib baik belum berpihak kepadanya.

Tahun berikutnya kejadian serupa terulang lagi. Ibunya kembali dibutakan di
dekat Ka'bah, sehingga tak dapat menyaksikan bangunan yang merupakan symbol
persatuan umat Islam itu. Wanita itu tidak bisa melihat Ka'bah. Hasan tidak
patah arang. Ia kembali membawa ibunya ke tanah suci tahun berikutnya. Anehnya, ibunya tetap saja tak dapat melihat Ka'bah. Setiap berada di Masjidil Haram, yang tampak di matanya hanyalah gelap dan gelap. Begitulah
keganjilan yang terjadi pada diri Sarah. Hingga kejadian itu berulang sampai
tujuh kali menunaikan ibadah haji.

Hasan tak habis pikir, ia tak mengerti, apa yang menyebabkan ibunya menjadi
buta di depan Ka'bah. Padahal, setiap berada jauh dari Ka'bah, penglihatannya selalu normal. Ia bertanya-tanya, apakah ibunya punya kesalahan sehingga mendapat azab Allah SWT ?. Apa yang telah diperbuat ibunya, sehingga mendapat musibah seperti itu ? Segala pertanyaan berkecamuk dalam dirinya. Akhirnya diputuskannya untuk mencari seorang alim ulama, yang dapat membantu permasalahannya.

Beberapa saat kemudian ia mendengar ada seorang ulama yang terkenal karena
kesholehannya dan kebaikannya di Abu Dhabi (Uni Emirat). Tanpa kesulitan berarti, Hasan dapat bertemu dengan ulama yang dimaksud. Ia pun mengutarakan
masalah kepada ulama yang saleh ini. Ulama itu mendengarkan dengan seksama,
kemudian meminta agar Ibu dari hasan mau menelponnya. anak yang berbakti ini
pun pulang. Setibanya di tanah kelahirannya, ia meminta ibunya untuk menghubungi ulama di Abu Dhabi tersebut. Beruntung, sang Ibu mau memenuhi
permintaan anaknya. Ia pun mau menelpon ulama itu, dan menceritakan kembali
peristiwa yang dialaminya di tanah suci. Ulama itu kemudian meminta Sarah
introspeksi, mengingat kembali, mungkin ada perbuatan atau peristiwa yang terjadi padanya di masa lalu, sehingga ia tidak mendapat rahmat Allah.

Sarah diminta untuk bersikap terbuka, mengatakan dengan jujur, apa yang telah
dilakukannya.
"Anda harus berterus terang kepada saya, karena masalah Anda bukan masalah sepele," kata ulama itu pada Sarah. Sarah terdiam sejenak. Kemudian ia meminta waktu untuk memikirkannya. Tujuh hari berlalu, akan tetapi ulama itu
tidak mendapat kabar dari Sarah. Pada minggu kedua setelah percakapan pertama mereka, akhirnya Sarah menelpon. "Ustad, waktu masih muda, saya bekerja sebagai perawat di rumah sakit," cerita Sarah akhirnya. "Oh,bagus.... Pekerjaan perawat adalah pekerjaan mulia," potong ulama itu. "Tapi saya mencari uang sebanyak-banyaknya dengan berbagai cara, tidak peduli, apakah cara saya itu halal atau haram," ungkapnya terus terang. Ulama itu terperangah. Ia tidak menyangka wanita itu akan berkata demikian. "Disana...." sambung Sarah, "Saya sering kali menukar bayi, karena tidak semua ibu senang dengan bayi yang telah dilahirkan. Kalau ada yang menginginkan anak laki-laki, padahal bayi yang dilahirkannya perempuan, dengan imbalan uang, saya tukar bayi-bayi itu sesuai dengan keinginan mereka."

Ulama tersebut amat terkejut mendengar penjelasan Sarah. "Astagfirullah......" betapa tega wanita itu menyakiti hati para ibu yang
diberi amanah Allah untuk melahirkan anak. bayangkan, betapa banyak keluarga
yang telah dirusaknya, sehingga tidak jelas nasabnya. Apakah Sarah tidak tahu, bahwa dalam Islam menjaga nasab atau keturunan sangat penting. Jika seorang bayi ditukar, tentu nasabnya menjadi tidak jelas. Padahal, nasab ini sangat menentukan dalam perkawinan, terutama dalam masalah mahram atau muhrim, yaitu orang-orang yang tidak boleh dinikahi.

"Cuma itu yang saya lakukan," ucap Sarah. "Cuma itu ?" tanya ulama terperangah. "Tahukah anda bahwa perbuatan Anda itu dosa yang luar biasa,
betapa banyak keluarga yang sudah Anda hancurkan !". ucap ulama dengan nada
tinggi.
"Lalu apa lagi yang Anda kerjakan ?" tanya ulama itu lagi sedikit kesal. "Di
rumah sakit, saya juga melakukan tugas memandikan orang mati." "Oh bagus, itu juga pekerjaan mulia," kata ulama. "Ya, tapi saya memandikan orang mati karena ada kerja sama dengan tukang sihir." "Maksudnya ?". tanya ulama tidak
mengerti. "Setiap saya bermaksud menyengsarakan orang, baik membuatnya mati atau sakit, segala perkakas sihir itu sesuai dengan syaratnya, harus dipendam di dalam tanah. Akan tetapi saya tidak menguburnya di dalam tanah, melainkan saya masukkan benda-benda itu ke dalam mulut orang yang mati."

"Suatu kali, pernah seorang alim meninggal dunia. Seperti biasa, saya memasukkan berbagai barang-barang tenung seperti jarum, benang dan lain-lain
ke dalam mulutnya. Entah mengapa benda-benda itu seperti terpental, tidak mau masuk, walaupun saya sudah menekannya dalam-dalam. Benda-benda itu selalu kembali keluar. Saya coba lagi begitu seterusnya berulang-ulang. Akhirnya, emosi saya memuncak, saya masukkan benda itu dan saya jahit mulutnya. Cuma itu dosa yang saya lakukan." Mendengar penuturan Sarah yang datar dan tanpa rasa dosa, ulama itu berteriak marah.

"Cuma itu yang kamu lakukan ?". "Masya Allah. ...!!! Saya tidak bisa bantu
anda. Saya angkat tangan". Ulama itu amat sangat terkejutnya mengetahui perbuatan Sarah. Tidak pernah terbayang dalam hidupnya ada seorang manusia, apalagi ia adalah wanita, yang memiliki nurani begitu tega, begitu keji. Tidak pernah terjadi dalam hidupnya, ada wanita yang melakukan perbuatan sekeji itu. Akhirnya ulama itu berkata, "Anda harus memohon ampun kepada Allah, karena hanya Dialah yang bisa mengampuni dosa Anda."

Bumi menolaknya.
Setelah beberapa lama, sekitar tujuh hari kemudian ulama tidak mendengar kabar selanjutnya dari Sarah. Akhirnya ia mencari tahu dengan menghubunginya
melalui telepon. Ia berharap Sarah telah bertobat atas segala yang telah diperbuatnya. Ia berharap Allah akan mengampuni dosa Sarah, sehingga Rahmat
Allah datang kepadanya. Karena tak juga memperoleh kabar, ulama itu menghubungi keluarga Hasan di Mesir. Kebetulan yang menerima telepon adalah Hasan sendiri. Ulama menanyakan kabar Sarah, ternyata kabar duka yang diterima ulama itu.
"Ummi sudah meninggal dua hari setelah menelpon ustad," ujar Hasan. Ulama itu terkejut mendengar kabar tersebut. "Bagaimana ibumu meninggal,Hasan ?". tanya ulama itu.
Hasanpun akhirnya bercerita :
Setelah menelpon sang ulama, dua hari kemudian ibunya jatuh sakit dan meninggal dunia. Yang mengejutkan adalah peristiwa penguburan Sarah. Ketika tanah sudah digali, untuk kemudian dimasukkan jenazah atas ijin Allah, tanah itu rapat kembali, tertutup dan mengeras. Para penggali mencari lokasi lain untuk digali. Peristiwa itu terulang kembali. Tanah yang sudah digali kembali menyempit dan tertutup rapat. Peristiwa itu berlangsung begitu cepat, sehingga tidak seorangpun pengantar jenazah yang menyadari bahwa tanah itu kembali rapat. Peristiwa itu terjadi berulang-ulang.
Para pengantar yang menyaksikan peristiwa itu merasa ngeri dan merasakan sesuatu yang aneh terjadi. Mereka yakin, kejadian tersebut pastilah berkaitan
dengan perbuatan si mayit.
Waktu terus berlalu, para penggali kubur putus asa dan kecapaian karena pekerjaan mereka tak juga usai. Siangpun berlalu, petang menjelang, bahkan
sampai hampir maghrib, tidak ada satupun lubang yang berhasil digali. Mereka
akhirnya pasrah, dan beranjak pulang. Jenazah itu dibiarkan saja tergeletak
di hamparan tanah kering kerontang. Sebagai anak yang begitu saying dan hormat kepada ibunya, Hasan tidak tega meninggalkan jenazah orang tuanya ditempat itu tanpa dikubur. Kalaupun dibawa pulang, rasanya tidak mungkin.

Hasan termenung di tanah perkuburan seorang diri.
Dengan ijin Allah, tiba-tiba berdiri seorang laki-laki yang berpakaian hitam
panjang, seperti pakaian khusus orang Mesir. Lelaki itu tidak tampak wajahnya, karena terhalang tutup kepalanya yang menjorok ke depan. Laki-laki
itu mendekati Hasan kemudian berkata padanya," Biar aku tangani jenazah ibumu, pulanglah!". Kata orang itu.

Hasan lega mendengar bantuan orang tersebut, Ia berharap laki-laki itu
Akan menunggu jenazah ibunya. Syukur-syukur mau menggali lubang untuk kemudian mengebumikan ibunya. "Aku minta supaya kau jangan menengok ke
belakang, sampai tiba di rumahmu, "pesan lelaki itu. Hasan mengangguk, kemudian ia meninggalkan pemakaman. Belum sempat ia di luar lokasi pemakaman,
terbersit keinginannya untuk mengetahui apa yang terjadi dengan jenazah ibunya.

Sedetik kemudian ia menengok ke belakang. Betapa pucat wajah Hasan, melihat
jenazah ibunya sudah dililit api, kemudian api itu menyelimuti seluruh tubuh ibunya. Belum habis rasa herannya, sedetik kemudian dari arah yang berlawanan, api menerpa wajah Hasan. Hasan ketakutan. Dengan langkah seribu,
ia pun bergegas meninggalkan tempat itu.

Demikian yang diceritakan Hasan kepada ulama itu. Hasan juga mengaku, bahwa separuh wajahnya yang tertampar api itu kini berbekas kehitaman karena
terbakar. Ulama itu mendengarkan dengan seksama semua cerita yang diungkapkan Hasan. Ia menyarankan, agar Hasan segera beribadah dengan khusyuk dan meminta ampun atas segala perbuatan atau dosa-dosa yang pernah dilakukan oleh ibunya. Akan tetapi, ulama itu tidak menceritakan kepada Hasan, apa yang telah diceritakan oleh ibunya kepada ulama itu. Ulama itu meyakinkan Hasan, bahwa apabila anak yang soleh itu memohon ampun dengan sungguh-sungguh, maka bekas luka di pipinya dengan ijin Allah akan hilang.

Benar saja, tak berapa lama kemudian Hasan kembali mengabari ulama itu, bahwa lukanya yang dulu amat terasa sakit dan panas luar biasa, semakin hari bekas kehitaman hilang. Tanpa tahu apa yang telah dilakukan ibunya selama hidup, Hasan tetap mendoakan ibunya. Ia berharap, apapun perbuatan dosa yang telah dilakukan oleh ibunya, akan diampuni oleh Allah SWT.

Semoga kisah nyata dari Mesir ini bisa menjadi pelajaran bagi kita semua.

Uang Rp 50.000 atau S$50 kelihatan begitu besar bila dibawa ke kotak derma masjid, tetapi begitu kecil bila kita bawa ke supermarket.
Waktu yang 45 menit terasa terlalu lama untuk berzikir tapi betapa pendeknya waktu itu untuk pertandingan bola sepak.
Semua insan ingin memasuki syurga tetapi tidak ramai yang berfikir dan berbicara tentang bagaimana untuk memasukinya.

Kita mengirimkan ribuan 'jokes' dan 'suratberantai' melalui e-mail tetapi
bila mengirimkan yang berkaitan dengan ibadah seringkali berfikir 2 atau 3
kali.

OLEH ITU JANGAN BIARKAN DIRI KITA INI MENJADI SEBAHAGIAN DARI KELUCUAN
TERSEBUT, INSYA'ALLAH.

Hati-Hati..! Syirik Dalam Lagu Cinta

Ditulis oleh Heri Setiawan

Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.” (Luqman: 13)

Lagu-lagu pop Indonesia semakin hari semakin “mencengangkan”, mulai dari lirik lagu yang terkesan “menuhankan” cinta sampai kepada penampilan serta aksi-aksi yang sangat-sangat keluar batas dan membuat terlena akan tujuan hidupnya. Memang sih dari segi kemajuan blantika musik Indonesia, kita mungkin terdepan…tapi dari segi moralitas anak muda, mungkin kita juga yang terbobrok… Apakah kemajuan musik mempengaruhi moralitas generasi penerus bangsa..? Wallahu a’lam…

Lagu cinta memang melenakan, terutama bagi mereka yang baru jatuh cinta atau putus cinta… Karena keterlenaan itulah mereka tidak sadar kalau lagu-lagu yang mereka nyanyikan bisa membuat mereka jatuh pada kesyirikan. Saya coba googling mencari lirik-lirik lagu percintaan yang mengandung unsur syirik, menduakan Allah dengan “cinta” dan “kekasih” yang sifatnya cuma sementara.

Dan ini adalah beberapa contoh lirik lagu percintaan bermasalah:

Kubiarkan senyumku menari di udara
Biar semua tahu kematian tak mengakhiri cinta
Apalah artinya hidup, tanpa kekasihku
Percuma ku ada disini
(agnes monica-tanpa kekasihku)

Hanya cinta yang mampu begitu
Tiada di dunia yang dapat buatku merasa
Yang kucoba katakan tak dapat hidup tanpamu
(Same Same/Ft. Audy – Without You)

Bagaimana mestinya membuatmu jatuh hati kepadaku
T’lah kutuliskan sejuta puisi meyakinkanmu membalas cintaku
Haruskah ku mati karenamu, terkubur dalam kesedihan sepanjang waktu
Haruskah kurelakan hidupku hanya demi cinta yang mungkin bisa membunuhku
(Ada Band- Haruskah Kumati)

Hidupku tanpa cintamu
Bagai malam tanpa bintang
Cintaku tanpa sambutmu
Bagai panas tanpa hujan
(Dewa – Risalah hati)

Engkaulah hidupku
Hidup dan matiku
Tanpa dirimu
aku menangis
Kukenang dirimu
(Ari Lasso-Lirih)

Entah dimana dirimu berada
Hampa terasa hidupku tanpa dirimu
Apakah disana kau rindukan aku
Seperti diriku yang selalu merindukanmu
Selalu merindukanmu
Tak bisa aku ingkari
Engkaulah satu-satunya
Yang bisa membuat jiwaku
Yang pernah mati
Menjadi berarti
(Ari Lasso-Hampa)

Aku… ku begitu menginginkanmu
Takkan mampu hidup tanpamu
Mengertilah
(Tahta-Tempat Yang Paling Indah)

Disini sendiri jauh darimu
Kulewati malam sepi menghujam
Tanpamu kurasakan mati
Tak seperti saat kau disisi
Ku merindukanmu..
(??? – Merindukanmu)

So what the next..?
Bagi temen-temen sesama anak muda , hindarilah lagu-lagu cinta yang sementara itu… Kalau bisa tinggalkanlah sepenuhnya…kalau belum bisa, alihkanlah ke lagu yang lebih baik yang bisa mengingatkan kepada pemberi cinta sejati… Okey…

Abah tambahin dikit:
Oh Malunya Hati ini Bila Kuingat Saat Itu
Kami Hanya Saling Berpandang dan TerDiam Terpaku
Oh Bulan Tolonglah Daku Katakan Padanya
Kucinta Dia
(Reza-Dia)

Pada bintang dan rembulan, kuberjanji setia selalu
Setulus hatimu semurni cintamu
Sayang percayalah aku
Engkau kan kusayang selama hidupku
Sayang percayalah aku
(Arie kusmiran-Setulus hatimu semurni cintamu)

Sejak ku mengenal dikau
Dunia nampak indah kemilau
Aku hidup hanya untukmu
Jangan jangan jangan tingggalkan daku
Adinda oh sayang adinda
Cintamu tiada duanya
Adinda oh buah hatiku
Kau dan aku selalu satu
Adinda dikaulah embun pagi
Adinda dikaulah matahari
(Bimbo-Adinda)

I swear by the moon
and the stars in the sky i'll be there
I swear like the shadow that's by your side
I'll be there
for better or worse
till death do us part
I'll love you with every beat of my heart
I swear
(All 4 one-I swear)

Kisah Nyata Seorang OB menjadi Vice President Citibank


Sungguh sebuah karunia yang luar biasa bagi saya bisa bertemu dengan seorang yang memiliki pribadi dan kisah menakjubkan. Dialah Houtman Zainal Arifin, seorang pedagang asongan, anak jalanan, Office Boy yang kemudian menjadi Vice President Citibank di Indonesia. Sebuah jabatan Nomor 1 di Indonesia karena Presiden Direktur Citibank sendiri berada di USA.
Tepatnya 10 Juni 2010, saya berkesempatan bertemu pak Houtman. Kala itu saya sedang mengikuti training leadership yang diadakan oleh kantor saya, Bank Syariah Mandiri di Hotel Treva International, Jakarta. Selama satu minggu saya memperoleh pelatihan yang luar biasa mencerahkan, salah satu nya saya peroleh dari Pak Houtman. Berikut kisah inspirasinya:
Sekitar tahun 60an Houtman memulai karirnya sebagai perantau, berangkat dari desa ke jalanan Ibukota. Merantau dari kampung dengan penuh impian dan harapan, Houtman remaja berangkat ke Jakarta. Di Jakarta ternyata Houtman harus menerima kenyataan bahwa kehidupan ibukota ternyata sangat keras dan tidak mudah. Tidak ada pilihan bagi seorang lulusan SMA di Jakarta, pekerjaan tidak mudah diperoleh. Houtman pun memilih bertahan hidup dengan profesi sebagai pedagang asongan, dari jalan raya ke kolong jembatan kemudian ke lampu merah menjajakan dagangannya.
Tetapi kondisi seperti ini tidak membuat Houtman kehilangan cita-cita dan impian. Suatu ketika Houtman beristirahat di sebuah kolong jembatan, dia memperhatikan kendaran-kendaraan mewah yang berseliweran di jalan Jakarta. Para penumpang mobil tersebut berpakaian rapih, keren dan berdasi. Houtman remaja pun ingin seperti mereka, mengendarai kendaraan berpendingin, berpakaian necis dan tentu saja memiliki uang yang banyak. Saat itu juga Houtman menggantungkan cita-citanya setinggi langit, sebuah cita-cita dan tekad diazamkan dalam hatinya.
Azam atau tekad yang kuat dari Houtman telah membuatnya ingin segera merubah nasib. Tanpa menunggu waktu lama Houtman segera memulai mengirimkan lamaran kerja ke setiap gedung bertingkat yang dia ketahui. Bila ada gedung yang menurutnya bagus maka pasti dengan segera dikirimkannya sebuah lamaran kerja. Houtman menyisihkan setiap keuntungan yang diperolehnya dari berdagang asongan digunakan untuk membiayai lamaran kerja.
Sampai suatu saat Houtman mendapat panggilan kerja dari sebuah perusahaan yang sangat terkenal dan terkemuka di Dunia, The First National City Bank (citibank), sebuah bank bonafid dari USA. Houtman pun diterima bekerja sebagai seorang Office Boy. Sebuah jabatan paling dasar, paling bawah dalam sebuah hierarki organisasi dengan tugas utama membersihkan ruangan kantor, wc, ruang kerja dan ruangan lainnya.
Tapi Houtman tetap bangga dengan jabatannya, dia tidak menampik pekerjaan. Diterimanyalah jabatan tersebut dengan sebuah cita-cita yang tinggi. Houtman percaya bahwa nasib akan berubah sehingga tanpa disadarinya Houtman telah membuka pintu masa depan menjadi orang yang berbeda.
Sebagai Office Boy Houtman selalu mengerjakan tugas dan pekerjaannya dengan baik. Terkadang dia rela membantu para staf dengan sukarela. Selepas sore saat seluruh pekerjaan telah usai Houtman berusaha menambah pengetahuan dengan bertanya tanya kepada para pegawai. Dia bertanya mengenai istilah istilah bank yang rumit, walaupun terkadang saat bertanya dia menjadi bahan tertawaan atau sang staf mengernyitkan dahinya. Mungkin dalam benak pegawai ”ngapain nih OB nanya-nanya istilah bank segala, kayak ngerti aja”. Sampai akhirnya Houtman sedikit demi sedikit familiar dengan dengan istilah bank seperti Letter of Credit, Bank Garansi, Transfer, Kliring, dll.
Suatu saat Houtman tertegun dengan sebuah mesin yang dapat menduplikasi dokumen (saat ini dikenal dengan mesin photo copy). Ketika itu mesin foto kopi sangatlah langka, hanya perusahaan perusahaan tertentu lah yang memiliki mesin tersebut dan diperlukan seorang petugas khusus untuk mengoperasikannya. Setiap selesai pekerjaan setelah jam 4 sore Houtman sering mengunjungi mesin tersebut dan minta kepada petugas foto kopi untuk mengajarinya. Houtman pun akhirnya mahir mengoperasikan mesin foto kopi, dan tanpa di sadarinya pintu pertama masa depan terbuka. Pada suatu hari petugas mesin foto kopi itu berhalangan dan praktis hanya Houtman yang bisa menggantikannya, sejak itu pula Houtman resmi naik jabatan dari OB sebagai Tukang Foto Kopi.
Menjadi tukang foto kopi merupakan sebuah prestasi bagi Houtman, tetapi Houtman tidak cepat berpuas diri. Disela-sela kesibukannya Houtman terus menambah pengetahuan dan minat akan bidang lain. Houtman tertegun melihat salah seorang staf memiliki setumpuk pekerjaan di mejanya. Houtman pun menawarkan bantuan kepada staf tersebut hingga membuat sang staf tertegun. “bener nih lo mo mau bantuin gua” begitu Houtman mengenang ucapan sang staff dulu. “iya bener saya mau bantu, sekalian nambah ilmu” begitu Houtman menjawab. “Tapi hati-hati ya ngga boleh salah, kalau salah tanggungjawab lo, bisa dipecat lo”, sang staff mewanti-wanti dengan keras. Akhirnya Houtman diberi setumpuk dokumen, tugas dia adalah membubuhkan stempel pada Cek, Bilyet Giro dan dokumen lainnya pada kolom tertentu. Stempel tersebut harus berada di dalam kolom tidak boleh menyimpang atau keluar kolom. Alhasil Houtman membutuhkan waktu berjam-jam untuk menyelesaikan pekerjaan tersebut karena dia sangat berhati-hati sekali. Selama mengerjakan tugas tersebut Houtman tidak sekedar mencap, tapi dia membaca dan mempelajari dokumen yang ada. Akibatnya Houtman sedikit demi sedikit memahami berbagai istilah dan teknis perbankan. Kelak pengetahuannya ini membawa Houtman kepada jabatan yang tidak pernah diduganya.
Houtman cepat menguasai berbagai pekerjaan yang diberikan dan selalu mengerjakan seluruh tugasnya dengan baik. Dia pun ringan tangan untuk membantu orang lain, para staff dan atasannya. Sehingga para staff pun tidak segan untuk membagi ilmu kepadanya. Sampai suatu saat pejabat di Citibank mengangkatnya menjadi pegawai bank karena prestasi dan kompetensi yang dimilikinya, padahal Houtman hanyalah lulusan SMA.
Peristiwa pengangkatan Houtman menjadi pegawai Bank menjadi berita luar biasa heboh dan kontroversial. Bagaimana bisa seorang OB menjadi staff, bahkan rekan sesama OB mencibir Houtman sebagai orang yang tidak konsisten. Houtman dianggap tidak konsisten dengan tugasnya, “jika masuk OB, ya pensiun harus OB juga” begitu rekan sesama OB menggugat.
Houtman tidak patah semangat, dicibir teman-teman bahkan rekan sesama staf pun tidak membuat goyah. Houtman terus mengasah keterampilan dan berbagi membantu rekan kerjanya yang lain. Hanya membantulah yang bisa diberikan oleh Houtman, karena materi tidak ia miliki. Houtman tidak pernah lama dalam memegang suatu jabatan, sama seperti ketika menjadi OB yang haus akan ilmu baru. Houtman selalu mencoba tantangan dan pekerjaan baru. Sehingga karir Houtman melesat bak panah meninggalkan rekan sesama OB bahkan staff yang mengajarinya tentang istilah bank.
19 tahun kemudian sejak Houtman masuk sebagai Office Boy di The First National City Bank, Houtman mencapai jabatan tertingginya yaitu Vice President. Sebuah jabatan puncak citibank di Indonesia. Jabatan tertinggi citibank sendiri berada di USA yaitu Presiden Director yang tidak mungkin dijabat oleh orang Indonesia.
Sampai dengan saat ini belum ada yang mampu memecahkan rekor Houtman masuk sebagai OB pensiun sebagai Vice President, dan hanya berpendidikan SMA. Houtman pun kini pensiun dengan berbagai jabatan pernah diembannya, menjadi staf ahli citibank asia pasifik, menjadi penasehat keuangan salah satu gubernur, menjabat CEO di berbagai perusahaan dan menjadi inspirator bagi banyak orang .
(Kisah Nyata Houtman Zainal Arifin, disampaikan dalam training Leadership bank Syariah Mandiri)

Pesan penting dari anak


Cerita ini berbicara mengenai seorang anak yg bernama Severn Suzuki seorang
anak yg pada usia 9 tahun telah mendirikan Enviromental Children's
Organization ( ECO ). kira-kira terjadi di tahun 1979.

ECO sendiri adalah Sebuah kelompok kecil anak" yg mendedikasikan diri Untuk
belajar dan mengajarkan pada anak" lain mengenai masalah" lingkungan.

Dan mereka pun diundang menghadiri Konfrensi Lingkungan hidup PBB, dimana
pada saat itu Seveern yg berusia 12 Tahun memberikan sebuah pidato kuat yg
memberikan pengaruh besar ( dan membungkam ) beberapa pemimpin dunia
terkemuka.

Apa yg disampaikan oleh seorang anak kecil ber-usia 12 tahun hingga bisa
membuat RUANG SIDANG PBB hening, lalu saat pidatonya selesai ruang sidang
penuh dengan orang" terkemuka yg berdiri dan memberikan Tepuk Tangan yg
meriah kepada anak berusia 12 tahun.

Inilah Isi pidato tersebut: (sumber The Collage Foundation)

Halo, nama Saya Severn Suzuki, berbicara mewakili E.C.O - Enviromental
Children Organization

Kami Adalah Kelompok dari kanada yg terdiri dari anak" berusia 12 dan 13
tahun. Yang mencoba membuat Perbedaan: Vanessa Suttie, Morga, Geister,
Michelle Quiq dan saya sendiri. Kami menggalang dana untuk bisa datang
kesini sejauh 6000 mil. Untuk memberitahukan pada anda sekalian orang
dewasa bahwa anda harus mengubah cara anda, Hari ini Disini juga. Saya
tidak memiliki agenda tersembunyi. Saya menginginkan masa depan bagi diri
saya saja.

Kehilangan masa depan tidaklah sama seperti kalah dalam pemilihan umum atau
rugi dalam pasar saham. Saya berada disini untuk berbicara bagi semua
generasi yg akan datang.

Saya berada disini mewakili anak" yg kelaparan di seluruh dunia yang
tangisannya tidak lagi terdengar.

Saya berada disini untuk berbicara bagi binatang" yang sekarat yang tidak
terhitung jumlahnya diseluruh planet ini karena kehilangan habitat nya.
kami tidak boleh tidak di dengar.

Saya merasa takut untuk berada dibawah sinar matahari karena berlubang nya
lapisan OZON. Saya merasa takut untuk bernafas karena saya tidak tahu ada
bahan kimia apa yg dibawa oleh udara.

Saya sering memancing di di Vancouver bersama ayah saya hingga beberapa
tahun yang lalu kami menemukan bahwa ikan"nya penuh dengan kanker. Dan
sekarang kami mendengar bahwa binatang" dan tumbuhan satu persatu mengalami
kepunahan tiap harinya - hilang selamanya.

Dalam hidup saya, saya memiliki mimpi untuk melihat kumpulan besar
binatang" liar, hutan rimba dan hutan tropis yang penuh dengan burung dan
kupu". tetapi sekarang saya tidak tahu apakah hal" tersebut bahkan masih
ada untuk dilihat oleh anak saya nantinya.

Apakah anda sekalian harus khawatir terhadap masalah" kecil ini ketika anda
sekalian masih berusia sama serperti saya sekarang?

Semua ini terjadi di hadapan kita dan walaupun begitu kita masih tetap
bersikap bagaikan kita masih memiliki banyak waktu dan semua pemecahan nya.
Saya hanyalah seorang anak kecil dan saya tidak memiliki semua pemecahan
nya tetapi saya ingin anda sekalian menyadari bahwa anda sekalian juga sama
seperti saya!

Anda tidak tahu bagaimana caranya memperbaiki lubang pada lapisan ozon
kita.
Anda tidak tahu bagaiman cara mengembalikan ikan-ikan salmon ke sungai
asalnya.
Anda tidak tahu bagaimana caranya mengembalikan binatang-binatang yang
telah punah.

Dan anda tidak dapat mengembalikan Hutan-Hutan seperti sediakala di
tempatnya yang sekarang hanya berupa padang pasir..
Jika anda tidak tahu bagaima cara memperbaikinya.
TOLONG BERHENTI MERUSAKNYA!

Disini anda adalah deligasi negara-negara anda. Pengusaha, Anggota
perhimpunan, wartawan atau politisi - tetapi sebenernya anda adalah ayah
dan ibu, saudara laki" dan saudara perempuan, paman dan bibi - dan anda
semua adalah anak dari seseorang.

Saya hanyalah seorang anak kecil, namun saya tahu bahwa kita semua adalah
bagian dari sebuah keluarga besar, yang beranggotakan lebih dari 5 milyar,
terdiri dari 30 juta rumpun dan kita semua berbagi udara, air dan tanah di
planet yang sama - perbatasan dan pemerintahan tidak akan mengubah hal
tersebut.

Saya Hanyalah seorang anak kecil namun begitu saya tahu bahwa kita semua
menghadapi permasalahan yang sama dan kita seharusnya bersatu untuk tujuan
yang sama.

Walaupun marah, namun saya tidak buta, dan walaupun takut, saya tidak ragu
untuk memberitahukan dunia apa yang saya rasakan.

Di Negara saya, kami sangat banyak melakukan penyia-nyiaan, kami membeli
sesuatu dan kemudian membuang nya, beli dan kemudian buang. walaupun begitu
tetap saja negara" di utara tidak akan berbagi dengan mereka yang
memerlukan.
Bahkan ketika kita memiliki lebih dari cukup, kita merasa takut untuk
kehilangan sebagian kekayaan kita, kita takut untuk berbagi.

Di Kanada kami memiliki kehidupan yang nyaman, dengan sandang, pangan dan
papan yang berkecukupan - kami memiliki jam tangan, sepeda, komputer dan
perlengkapan televisi.

Dua hari yang lalu di Brazil sini, kami terkejut ketika kami menghabiskan
waktu dengan anak" yang hidup di jalanan. Dan salah satu anak tersebut
memberitahukan kepada kami: " Aku berharap aku kaya , dan jika Aku kaya,
Aku akan memberikan anak" jalanan makanan, pakaian dan obat-obatan, tempat
tinggal . dan Cinta dan Kasih sayang " .

Jika seorang anak yang berada dijalanan yang tidak memiliki apapun,
bersedia untuk berbagi, mengapa kita yang memiliki segalanya masih begitu
serakah?

Saya tidak dapat berhenti memikirkan bahwa anak" tersebut berusia sama
dengan saya , bahwa tempat kelahiran anda dapat membuat perbedaan yang
begitu besar. bahwa saya bisa saja menjadi salah satu dari anak" yang hidup
di Favellas di Rio; saya bisa saja menjadi anak yang kelaparan di Somalia ;
seorang korban perang timur tengah atau pengemis di India .

Saya hanyalah Seorang anak kecil namun saya tahu bahwa jika semua Uang yang
dihabiskan untuk perang dipakai untuk mengurangi tingkat kemisikinan dan
menemukan jawaban terhadap permasalahan alam, betapa indah jadinya dunia
ini.

Di sekolah, bahkan di taman kanak-kanak anda mengajarkan kami untuk berbuat
baik. Anda mengajarkan pada kami untuk tidak berkelahi dengan orang lain.
Mencari jalan keluar, membereskan kekacauan yang kita timbulkan.
Tidak menyakiti makhluk hidup lain, Berbagi dan tidak tamak..

Lalu mengapa anda kemudian melakukan hal yang anda ajarakan pada kami
supaya tidak boleh dilakukan tersebut?

Jangan lupakan mengapa anda menghadiri Konfrensi ini. mengapa anda
melakukan hal ini - kami adalah anak" anda semua , Anda sekalianlah yang
memutuskan dunia seperti apa yang akan kami tinggali. Orang tua seharus nya
dapat memberikan kenyamanan pada anak" mereka dengan mengatakan " Semuanya
akan baik-baik saja ". 'kami melakukan yang terbaik yang dapat kami
lakukan' dan ' ini bukanlah akhir dari segalanya'

Tetapi saya tidak merasa bahwa anda dapat mengatakan hal tersebut kepada
kami lagi. Apakah kami bahkan ada dalam daftar prioritas anda semua?
Ayah saya selalu berkata ' kamu akan selalu dikenang karena perbuatan mu
bukan oleh kata" mu '

Jadi, apa yang anda lakukan membuat saya menangis pada malam hari. kalian
orang dewasa berkata bahwa kalian menyayangi kami.

Saya menantang A N D A , cobalah untuk mewujudkan kata" tersebut.

Sekian dan terima kasih atas perhatian nya.

Servern Cullis-Suzuki telah membungkam 1 ruang sidang Konfrensi PBB,
membungkam seluruh Orang" penting dari seluruh dunia hanya dengan
pidatonya, setelah pidato nya selesai serempak seluruh Orang yang hadir
diruang pidato tersebut berdiri dan memberikan tepuk tangan yang meriah
kepada anak berusia 12 tahun.

dan setelah itu ketua PBB mengatakan dalam pidato nya..

" Hari ini Saya merasa sangatlah Malu terhadap Diri saya sendiri karena
saya baru saja disadarkan betapa penting na linkungan dan isi nya disekitar
kita oleh Anak yang hanya berusia 12 tahun yang maju berdiri di mimbar ini
tanpa selembar pun Naskah untuk berpidato, sedang kan saya maju membawa
berlembar naskah yang telah dibuat oleh assisten saya kemarin? Saya ...
tidak kita semua dikalahkan oleh anak yang berusia 12 tahun "

Cerita ini benar" terjadi dan pidato severn Cullis-Suzuki itu benar" pidato
yang dikatakan nya dalam pidato tersebut tanpa dilebih" kan .

Apa yang anda dapat dari cerita tersebut?

* Tolong sebarkan e-mail ini ke semua orang yang anda kenal, bukan untuk
mendapatkan nasib baik atau kesialan kalau tidak mengirimkan, tapi mari
kita bersama-sama membuka mata semua orang di dunia bahwa bumi sekarang
sedang dalam keadaan sekarat dan kita-lah manusia yang membuatnya seperti
ini yang harus bertindak untuk mencegah kehancuran dunia. Kesehatan
masyarakat dunia ada di tangan masing-masing dari kita. Karena lingkungan
juga memiliki pengaruh besar dalam menentukan status kesehatan dan penyakit
epidemik yang dapat ditimbulkan. Mulai dari diri sendiri, mulai dari hal
yang kecil, dan mulai saat ini juga menjaga lingkungan kita dan memperbaiki
pola hidup kita agar amah lingkungan.

Ummu Ditya E
(Mahasiswa FK brawijaya 2006)

How Poor Are We

One day, the father of a very wealthy family took his son on a trip to the country with the express purpose of showing him how poor people live.
They spent a couple of days and nights on the farm of what would be considered a very poor family.
On their return from their trip, the father asked his son, 'How was the trip?'
'It was great, Dad.'
'Did you see how poor people live?' the father asked.
'Oh yeah,' said the son.
'So, tell me, what you learned from the trip?' asked the father
The son answered:
'I saw that we have one dog and they had four.
We have a pool that reaches to the middle of our garden and they have a creek that has no end.
We have imported lanterns in our garden and they have the stars at night.
Our patio reaches to the front yard and they have the whole horizon.
We have a small piece of land to live on and they have fields that go beyond our sight.
We have servants who serve us, but they serve others.
We buy our food, but they grow theirs.
We have walls around our property to protect us; they have friends to protect them.'
The boy's father was speechless.
Then his son added, 'Thanks Dad for showing me how poor we are.'
Isn't perspective a wonderful thing?
Makes you wonder what would happen if we all gave thanks for everything we have, instead of worrying about what we don't have.
Appreciate every single thing you have, especially your friends!
'Life is too short and friends are too few.'

Motor Vs Car

OMG!

Do you see the motorcycle?

Now do you see it?

The Honda crotch rocket rider was traveling at approximately 85 mph. The VW driver was talking on a cell phone when she pulled out from a side street, apparently not seeing the motorcycle. The riders reaction time was not sufficient enough to avoid this accident. The car had two passengers and the bike rider was found INSIDE the car with them. The Volkswagen actually flipped over from the force of impact and landed 20 feet from where the collision took place.

All three involved (two in the car and the bike rider) were killed instantly. This graphic demonstration was placed at the Motorcycle Fair by the Police and Road Safety Department.

You might pass this on to car drivers or soon to be new drivers, or new motorcycle owners AND ESPECIALLY EVERYONE YOU KNOW WHO HAS A CELL PHONE!

A picture is worth a thousand words.

Wake up people, Stop talking on Cell phones and Texting while trying to drive. Put your Cell phone in the back seat!

Apartemen lantai 69

Ada satu keluarga yang mengontrak rumah dan akhirnya membeli sebuah
apartemen di lantai 60. Apartemen itu memakan waktu sangat lama dalam
pembuatannya. Kemudian, tibalah hari yang dinanti. Apartemen dambaan telah
jadi dan selesai dengan baik. Dengan semangat dan antusias mereka membawa
banyak barang-barang untuk mengisi apartemen mereka.
Mereka membawa surat kabar, pakaian, mainan, makanan, kompor, lemari
pakaian, tempat tidur, peralatan makan, televisi, alat musik, sabun,
teropong, dan banyak sekali barang lain. "Nanti di atas, kita bisa nonton
tv, main video game, masak terus makan masakan buatan sendiri, bisa
bersantai sambil mendengarkan musik, bisa meneropong jauh, bersantai, mandi
dulu, pokoknya enak deh..." demikian pikir mereka.
Sesampainya mereka di sana, mereka menemui developer. Ternyata, apartemen
itu baru setengah jadi dan lift belum terpasang. Mereka sangat kecewa
dibuatnya. Mereka ingin pulang ke rumah lama mereka, tapi kontrak mereka
sudah habis. Dengan sangat terpaksa, mereka harus tetap naik ke atas sana
dan tinggal di dalamnya menggunakan tangga darurat. Mereka naik membawa
semua barang mereka menggunakan tangga darurat. tangga demi tangga dilalui,
mereka terus maju dengan semangat membara.
Sesampainya mereka di lantai 25 mereka kelelahan, mereka makan dan minum
dengan lahapnya. Lalu mereka melihat barang-barang mereka, semuanya utuh.
Timbul sebuah pikiran untuk mengurangi barang bawaan mereka. Lalu mereka
memutuskan untuk meninggalkan meja telepon dengan teleponnya. "Toh di atas
kita tidak perlu telepon atau pesan apa-apa," demikian menurut mereka.
Di lantai 30 mereka tinggalkan baju, mainan dan lemari pakaian mereka. "Toh
kita masih memakai baju." Lalu mereka terus melaju ke lantai 35, mereka
masih mengeluh dan memutuskan untuk meninggalkan barang mereka lagi yaitu
televisi dan radio serta compo. "Soalnya kita tidak perlu nonton tv, toh
acara dan lagu-lagu yang kita punya itu-itu saja."
Teruslah mereka melaju sampai lantai 45, rasanya masih berat dan tidak
menyenangkan. Maka mereka tinggalkan kompor dan bahan makanan yang mereka
bawa. "Toh tadi masih kenyang makan banyak." Lalu, di lantai 55 teropong
dengan tripod yang sangat besar mereka tinggalkan begitu saja. "Toh di atas
mau lihat apa, belum jadi semua tower yang lain."
Sesampainya di lantai 60, mereka masuk dan menyadari yang mereka miliki
hanya sebuah kasur. Tidak ada jalan lain, mereka hanya ingin tidur karena
tidak ada pilihan lain.


And so.... what's the point?

Mungkin Anda bingung kenapa perumpamaan ini sangat panjang Perjalanan itu
melambangkan kehidupan. Tiap lantai yang ada, melambangkan umur.


Dan Anda adalah keluarga tersebut. Barang-barang tersebut adalah mimpi
Anda, barang-barang tersebut adalah perlambang tindakan Anda.


Di umur 25 Anda mulai bekerja dan memutuskan untuk fokus pada pekerjaan
Anda, tanpa sadar Anda telah mengeliminasi banyak sahabat potensial.

Di umur 30 Anda sudah tidak memperhatikan penampilan dan melupakan hobi
Anda akibat sulitnya bersaing.

Di umur 35 Anda mulai melupakan kesenangan yang Anda dambakan di hari tua
akibat kenyataan bahwa tabungan Anda tidak mencukupi.

Di umur 45 Anda berhenti makan makanan yang Anda sukai akibat terlalu
banyak mengkonsumsi makanan di usia 25 yang mulai berdampak buruk di usia
ini.

Di umur 55 Anda benar-benar melupakan keinginan menikmati hari tua dengan
memandang indahnya hidup dengan menikmati apa yang Anda lewati, Anda mulai
kuatir dengan masa depan anak Anda.

Di umur 60, Anda menyesal tidak banyak yang Anda dapat akibat tidak ada
mimpi yang direalisasikan. Anda hanya ingin cepat tidur selamanya, karena
Anda sudah tidak bisa lagi makan makanan enak, Anda tidak memiliki
achievement yang bisa dibanggakan, Anda tidak punya siapapun yang menjadi
sahabat Anda, Anda tidak bisa menikmati hobi Anda di masa muda, kesehatan
badan mengkuatirkan.


Hidup cuma datang sekali. Jadi pastikan, Anda akan berjuang untuk mencapai
mimpi-mimpi Anda! Jangan lepaskan, tapi usahakan. Jangan sampai kita
kehabisan pilihan dalam menjalani hidup.

NASEHAT dibalik fenomena FACEBOOK (perhatian bagi kita)

dikirim oleh Rahayu Ningsih

Ketika aib seseorang ditunggu-tunggu ribuan bahkan jutaan pembaca dalam berita-berita media massa...
Ketika seorang celebritis dengan bangga menjadikan kehamilannya di luar pernikahan yang sah sebagai ajang sensasi yang ditunggu-tunggu ...’siapa calon bapak si jabang bayi?
’Weleh-weleh,,......mungkin kita bisa berkata; "ya wajarlah artis, kehidupannya ya seperti itu, penuh sensasi". Kalau perlu dari mulai bangun tidur sampai tidur lagi, aktivitasnya diberitakan dan dinikmati oleh publik. Wuiiih......ternyata sekarang bukan hanya artis yang bisa seperti itu, sadar atau tidak, ribuan bahkan jutaan orang saat ini sedang menikmati aktivitasnya [apapun] diketahui orang, dikomentarin orang bahkan [mohon maaf].. dilecehkan’ orang. Dan lebih herannya perasaan yang didapat adalah kesenangan,,.
Fenomena itu bernama FACEBOOK.
Setiap saat para facebooker meng-update statusnya agar bisa dinikmati dan dikomentarin lainnya. Lupa atau sengaja, hal-hal yang semestinya menjadi konsumsi internal keluarga atau rahasia menjadi kebanggaan di statusnya.
Mungkin beberapa contoh status facebook bisa diperhatikan dibawah ini:Seorang wanita menuliskan “Hujan-hujan malam-malam sendirian, enaknya ngapain ya.....?”------kemudian puluhan komen bermunculan dari lelaki dan perempuan, bahkan seorang lelaki temannya menuliskan “mau ditemanin? Dijamin puas deh...”Seorang wanita lainnya menuliskan “ Bangun tidur, badan sakit semua, biasa....habis malam jumat ya begini...:” kemudian komen2 nakal bermunculan...Ada yang menulis “Bete nih di rumah terus, mana misua jauh lagi....”, ----kemudian komen2 pelecehan bermunculan.Yang laki-laki tidak kalah hebat menulis statusnya “Habis minum jamu nih...., ada yang mau menerima tantangan ?’----langsung berpuluh2 komen datang.Ada yang hanya menuliskan, “lagi bokek, kagak punya duit...”Ada juga yang nulis “ mau tidur nih, panas banget...bakal tidur pake dalaman lagi nih” ..... dan ribuan status-status yang numpang beken dan pengin ada komen-komen dari lainnya yg tidak pantas dilakukan oleh seorang mukmin seperti kita.
Dan itu sadar atau tidak sadar dinikmati oleh indera kita, mata kita, telinga kita, bahkan pikiran kita.
Ada lagi yang lebih kejam dari sekedar status facebook, dan herannya seakan hilang rasa empati dan sensitivitas dari tiap diri terhadap hal-hal yang semestinya di tutup dan tidak perlu di tampilkan.
Seorang wanita dengan nada guyon mengomentarin foto yang baru saja diupload dialbumnya, foto-foto saat SMA dulu setelah berolah-raga memakai kaos dan celana pendek.....padahal sebagian besar yg ada didalam foto tersebut saat ini sudah berjilbab.
Ada seorang wanita meng-upload foto temannya yang sekarang sudah berubah dari kehidupan jahiliyah menjadi kehidupan islami, foto saat dulu jahiliyah bersama teman2 prianya bergandengan dengan ceria....
Ada pula seorang pria meng-upload foto seorang wanita mantan kekasihnya dulu yang sedang dalam kondisi sangat seronok padahal kini sang wanita telah berkeluarga dan hidup dengan tenang.
Rasanya hilang; apa yang telah diajarkan seseorang yang sangat dicintai Allah SWT...., yaitu Muhammad Rasulullah SAW kepada umatnya, seseorang yang sangat menjaga kemuliaan dirinya dan keluarganya. Ingatkah kita ketika Rasulullah bertanya pada Aisyah r.ha“ Wahai Aisyah apa yang dapat saya makan pagi ini?” maka Aisyah menjawab “ wahai Rasulullah, sesungguhnya tidak ada yang dapat kita makan pagi ini”. Rasulullah dengan senyum teduhnya berkata “baiklah Aisyah, aku berpuasa hari ini”.Jadi, tidak perlu orang tahu bahwa tidak ada makanan di rumah Rasulullah.Ingatkah kita; Abdurrahman bin Auf r.a mengikuti Rasulullah berhijrah dari Mekah ke Madinah, ketika saudaranya menawarkannya sebagian hartanya, dan sebagian rumahnya,maka abdurahman bin auf mengatakan, tunjukkan saja saya pasar. Kekurangannya tidak membuat beliau kehilangan kemuliaan hidupnya.
Bahwasanya kehormatan menjadi salah satu indikator keimanan seseorang, sebagaimana sabda Rasulullah SAW, “Malu itu sebagian dari iman”. (HR. Bukhari dan Muslim).
Dan fenomena di atas menjadi Tanda Besar buat kita, hegemoni ‘kesenangan semu’ dan dibungkus dengan ‘persahabatan fatamorgana’ ditampilkan dengan mudahnya celoteh dan status dalam facebook yang melindas semua tata krama tentang Malu, tentang menjaga Kehormatan Diri dan keluarga.Rasulullah SAW menegaskan dengan sindiran keras kepada kita“Apabila kamu tidak malu maka perbuatlah apa yang kamu mau.” (HR. Bukhari).Maka jagalah kehormatan diri, jangan tampakkan lagi aib-aib masa lalu. mudah-mudahan Allah menjaga aib-aib kita.
Maka jagalah kehormatan diri kita, simpan rapat keluh kesah kita, simpan rapat aib-aib diri, jangan bebaskan ‘kesenangan’, ‘gurauan’ membuat kehormatan kita luntur tak berbekas.
Beberapa orang sering dgn mudahnya meng-up date status mereka dgn kata-kata yg tidak jelas; entah apa tujuannya selain untuk numpang beken, cari perhatian dan pengin ada komen-komen dari lainnya".
> Dingin . . .
> B.E.T.E. . . .
> Kangen . .
> Puanass buaget neh !
> Arghhh .. . !!!!
> Gile tuh org !
> . . .
> Aku masih menanti . .
etc....

Mari kita jaga martabat dan akhlaq kita sbg orang iman dg selalu menjaga segala sesuatu yg tdk pantas kita lakukan..Semoga Alloh memberikan selalu pencerahan iman untuk kita smua, amien.

Alhamdulillahi jazaa kumullohu khoiron. [ishaq m]

Inspiring Story

It was a really hot summer’s day many years ago. I was on my way to pick up two items at the grocery store. In those days, I was a frequent visitor to the supermarket because there never seemed to be enough money for a whole week’s food-shopping at once.
You see, my young wife, after a tragic battle with cancer, had died just a few months earlier. There was no insurance -- just many expenses and a mountain of bills. I held a part-time job, which barely generated enough money to feed my two young children.
Things were bad -- really bad.

And so it was that day, with a heavy heart and four dollars in my pocket, I was on my way to the supermarket to purchase a gallon of milk and a loaf of bread. The children were hungry and I had to get them something to eat. As I came to a red traffic light, I noticed on my right a young man, a young woman and a child on the grass next to the road. The blistering noonday sun beat down on them without mercy.

The man held up a cardboard sign which read, "Will Work for Food." The woman stood next to him. She just stared at the cars stopped at the red light. The child, probably about two years old, sat on the grass holding a one-armed doll. I noticed all this in the thirty seconds it took for the traffic light to change to green.

I wanted so desperately to give them a few dollars, but if I did that, there wouldn’t be enough left to buy the milk and bread. Four dollars will only go so far. As the light changed, I took one last glance at the three of them and sped off feeling both guilty (for not helping them) and sad (because I didn’t have enough money to share with them).

As I kept driving, I couldn’t get the picture of the three of them out of my mind. The sad, haunting eyes of the young man and his family stayed with me for about a mile. I could take it no longer. I felt their pain and had to do something about it. I turned around and drove back to where I had last seen them.

I pulled up close to them and handed the man two of my four dollars. There were tears in his eyes as he thanked me. I smiled and drove on to the supermarket. Perhaps both milk and bread would be on sale, I thought. And what if I only got milk alone, or just the bread? Well, it would have to do.

I pulled into the parking lot, still thinking about the whole incident, yet feeling good about what I had done. As I stepped out of the car, my foot slid on something on the pavement. There by my feet was a twenty-dollar bill. I just couldn’t believe it. I looked all around, picked it up with awe, went into the store and purchased not only bread and milk, but several other items I desperately needed.

I never forgot that incident. It reminded me that the universe was strange and mysterious. It confirmed my belief that you could never out give the universe. I gave away two dollars and got twenty in return. On my way back from the supermarket, I drove by the hungry family and shared five additional dollars with them.

This incident is only one of many that have occurred in my life. It seems that the more we give, the more we get. It is, perhaps, one of those universal laws that say, "If you want to receive, you must first give."

There is a little rhyme that goes like this:

"A man there was, and they called him mad,

The more he gave, the more he had."

Most times, we think that we don’t have anything to give. Yet, if we look more closely, we ’ll see that even the little we have could be shared with others. Let us not wait for a time when we think we’ll have lots and then we’ll give. By giving and sharing the little we have, we open up the storehouse of the universe and permit rivers of good to come our way.

Don’t take my word for it. Just honestly try to give and you’ll be surprised at the results. Generally, the returns do not come back from those we give to. It comes back from sources we could hardly imagine. So give your way to riches.

Take a chance on this universal principle. Take a chance on yourself. Universal principles always work.

Sometimes the return from giving happens very quickly as in the true story above. Other times, it takes much longer. But be assured of this: Give and you will receive - and you’ll receive lots more than you ever gave.

And when you give, don’t do it with a heart of fear, but with a heart full of gratitude. You will be amazed at how it all works out.

Open the gates of affluence in your life by giving a bit of what you have to those in need. As the great Teacher said, Give and it will be given unto you.

Try it. You’ll like it.

How to face adversity :: An excellent Article

A young boy went to his father and told him about his life and how things were so hard for him. He did not know how he was going to make it and wanted to give up. He was tired of fighting and struggling. It seemed as one problem was solved, a new one arose.

His father took him to the kitchen. He filled three pots with water; in the first he placed carrots, in the second he placed eggs, and in the last he put some coffee beans. He let them boil, without saying a word.

In about twenty minutes he turned off the burners. He took out the carrots and placed them in a bowl. He pulled the eggs out and placed them in a bowl. Then he took the coffee out and placed it in a bowl.

Father brought the son and asked him to feel the carrots. He did and noted that they were soft. The Father then asked him to take an egg and break it. After pulling off the shell, he observed the hard-boiled egg. Finally, the father asked him to sip the coffee. The son tasted it and asked, "What does it mean?"

Father explained that each of these objects had faced the same adversity: boiling water. Each reacted differently.

The carrot went in strong, hard, and unrelenting. However, after being subjected to the boiling water, it softened and became weak.

The egg had been fragile. Its thin outer shell had protected its liquid interior, but after sitting through the boiling water, its inside became hardened.

The coffee beans were unique, however. After they were in the boiling water, they had changed the water.

"Which are you?" Father asked him. "When adversity knocks on your door, how do you respond? Are you a carrot, an egg or a coffee bean?"

Think of this: Which am I?

Am I The carrot that seemed strong, but with pain and adversity it became soft and lost its strength?

Am I The egg that starts with a soft heart, but changes with the heat? Did I have a fluid spirit, but after a death, a breakup, a financial hardship or some other trial, have I become hardened and stiff? Does my shell look the same, but on the inside am I bitter and tough with a stiff spirit and hardened heart?

Or am I like the coffee beans? The bean actually changes the hot water, the very circumstance that brings the pain. When the water gets hot, it releases the fragrance and flavor. If you are like the bean, when things are at their worst, you get better and change the situation around you.

How do you handle adversity? When the hour is the darkest and trials are greatest, do you elevate yourself to another level? Are you a carrot, an egg or coffee bean?

Lesson for life

Please do take a few moments and go through each picture…..














The most beautiful thing is to see a person smiling. And even more beautiful, is to know that you are the reason behind it!!

MEMBUNUH NYAMUK DI TENGAH MALAM


Jam dinding tepat menunjukkan pukul 02.30. Tanpa terasa saya terbangun dari tidur. Saya dikagetkan oleh dengungan suara seekor nyamuk yang mau hinggap di tubuh. Secara reflek tangan saya bergerak. Dan 'plak'. Seketika matilah nyamuk tersebut oleh kedua tangan saya yang menepuknya.
Setelah terbangun dari gangguan nyamuk tadi, saya menuju kamar mandi, mengambil air wudhu dan kembali ke kamar tidur. Berikutnya saya mengambil sajadah, dan saya 'terperangkap' dalam khusyu'nya tahajud malam.
Selesai melakukan shalat, dzikir yang cukup panjang mewarnai malam itu. Ditengah basahnya lidah menyebut asma Allah, tiba-tiba saya teringat akan nyamuk yang saya bunuh tadi. Dan tak tertahankan lagi, mata basah oleh penyesalan yang mendalam.
Rasa salah yang begitu besar, telah menyelinap di hati yang paling dalam. Saat itu diri ini merasa berdosa, sebab telah membunuh seekor nyamuk yang telah berjasa besar. Nyamuk itulah justru yang telah membangunkan saya dari tidur lelap agar bisa tahajud malam. Agar bisa mendekati Sang Khaliq. Agar bisa mencintai Sang pengasih. Tetapi 'pahlawan' itu terbunuh dalam 'tugas mulia'nya ketika membangunkan manusia dari kekhilafannya. Maka bertambah berderailah air mata penyesalan, disela-sela dzikir asmaul husna.
Keesokan harinya, ketika saya berusaha mengulang untuk merekonstruksi kejadian malam itu, tidak sebutir air matapun yang menetes. Mengapa? sebab suasana sudah berubah. Saya termenung memikirkan kejadian semalam itu.
Pertanyaan yang selalu muncul adalah mengapa pada malam itu, saya bisa menangisi seekor nyamuk? Padahal ia membawa penyakit, padahal gigitannya mendatangkan rasa sakit. Apa yang menyebabkan saya menjadi menyesal setelah membunuh nyamuk itu?
Pertanyaan demi pertanyaan, muncul di benak saya. Manakah yang benar? Apakah yang terbunuh malam itu, ia adalah seekor binatang jahat yang akan mendatangkan kerugian karena gigitan atau penyakit yang dibawanya, ataukah justru ia adalah seekor binatang kecil sebagai sosok pahlawan yang rela mati demi kepentingan seorang manusia agar bisa bertemu dengan Tuhannya.
Yang jelas, suasana malam hari yang hening akan menyebabkan seseorang bisa berfikir dengan begitu jernihnya tanpa dipengaruhi oleh dunia yang penuh dengan tipu daya. Sungguh sangat masuk akal kalau Rasulullah saw, menganjurkan kita agar sering bangun di sepertiga malam terakhir, agar kita mendapatkan suatu anugerah yang luar biasa. Bahkan dalam bulan ramadhan ada suatu malam yang nilainya lebih baik dari seribu bulan....
Tetapi memang sungguh berbeda, calon penghuni neraka, dan calon penghuni surga. Ada sebagian orang yang menggunakan waktu malamnya untuk mendekatkan diri pada Ilahi. Dia bangun tengah malam, diambilnya air wudhu' untuk mensucikan dirinya, setelah itu ia asyik tenggelam dalam shalat tahajudnya. Kenikmatan yang didapatnya tak dapat diutarakan dengan kata-kata....
Sementara, di tempat lain banyak juga orang-orang yang menggunakan waktu malamnya yang sangat berharga itu, untuk melakukan perbuatan maksiat yang dilarang oleh Penciptanya. Padahal semua fasilitas untuk berbuat maksiat itu adalah didapat karena kasih sayang Tuhannya.
Apakah kesehatannya, apakah rezekinya, atau kesempatannya, atau umurnya. Semua yang dipakai untuk pergi menuju tempat 'terlarang' itu berasal dari Tuhan sang Penciptanya. Pertanyaan yang mungkin muncul di benak kita adalah, Manakah yang lebih pintar?
Apakah orang-orang yang menggunakan waktu malamnya untuk menuju keridhaan Allah, dengan melakukan dzikrullah, Ataukah orang-orang yang menggunakan waktu malamnya untuk menuju tempat atau melakukan perbuatan yang dilarang Allah. Dan kita pun tinggal memilih, berada pada golongan manakah diri kita?
Kata Allah Swt, dalam Surat Al-Hasyr : 20 "(sungguh), Tiada sama penghuni neraka dengan penghuni syurga. Penghuni syurga itu adalah orang-orang yang beruntung..."

ADA APA DENGAN KANTUNG PLASTIK ?


• Dalam satu tahun, 1 triliun kantong plastik digunakan oleh dunia.
• Setiap orang menggunakan sekitar 170 kantong plastik tiap tahun. Ini berarti setiap satu menit-nya 2 juta kantong plastik yang dibuang
• Kantung plastik terbuat dari polyethene (PE), suatu bahan thermoplastic yang lebih dari 60 juta ton bahan ini diproduksi setiap tahun di seluruh dunia terutama menjadi kantung plastik.
• Untuk memproduksi 1 ton plastik diperlukan 11 barel minyak mentah (BBM)
• Di negara-negara maju, penggunaan plastic shopping bags (kantung plastik belanjaan) di toko dan supermarket mulai dibatasi dan digantikan dengan paper bags (kantung kertas) yang terbuat dari kertas yang dapat didaur-ulang.


- Di San Francisco (AS), toko & supermarket yang masih menyediakan kantung plastik dikenakan denda $100 (hampir Rp 1 juta) untuk pelanggaran pertama kali, dan meningkat denda $200 untuk pelanggaran berikutnya dan jika masih melanggar dikenanakan denda $500.
- Di Australia, toko-toko menjual "green bags" seharga satu dollar saja namun bisa dipakai berkali-kali.
- Di Perancis, supermarket (seperti Carrefour) "memaksa" konsumennya untuk membeli plastik yang dapat dipakai berulang (reusable plastic) dan Tas kain non-tenun (non-woven bags).
- Di Inggris, beberapa toko besar (seperti Tesco dengan "Green Bag Scheme") memberi discount khusus senilai 1-4 Poundsterling bagi pembeli yang membawa sendiri Tas dari rumah.

Apa "Dosa" Kantung Plastik, sehingga kita harus mengurangi pemakaian Kantung Plastik ?
Kantung plastik tergolong "barang sekali pakai" (single-use plastic shopping bags) sehingga memperbanyak Sampah. Kalau kita belanja bulanan di supermarket, sekali
belanja kita akan "dihadiahi" paling sedikit 4 kantung plastik dalam berbagai ukuran.
- Jakarta menghasilkan sekitar 6.000 ton sampah setiap hari, yang lebih dari setengahnya adalah sampak non-organik terutama plastik dan kertas.

- Sampah kantong plastik yang dibuang di Jakarta dapat menutupi 2600 lapangan sepakbola.
- Baru bisa terurai di alam (biodegradble) dalam waktu 500 - 1.000 tahun, sehingga jika tercecer di tanah akan merusak lingkungan (menghambat peresapan air yang menyebabkan banjir dan merusak kesuburan tanah).
- Pemerintah Bangladesh melarang kantung plastik karena dianggap sebagai penyebab banjir karena menyumbat saluran pembuangan air di musim hujan. Sekitar 3% plastik di dunia berakhir sebagai sampah yang terapung-apung di permukaan air, termasuk di laut yang menyebabkan kematian banyak ikan paus dan penyu karena sampah plastik tersangkut di pencernaan mereka


- Hanya 1% saja Kantung plastik bekas yang dapat didaur ulang, terutama karena sulitnya memilah berbagai jenis plastik yang digunakan dan tak sebandingnya biaya recycle dengan harga jual produk recycle, sehingga hampir semua kantung plastik tinggal menjadi sampah. Pemulung saja ogah ambil sampah kantung plastik !
- Untuk memproduksi plastik, setiap satu tahunnya diperlukan 12 juta barel minyakyang menghasilkan emisi gas rumah kaca perusak lapisan ozon (ditambah lagi sekarang terjadi krisis minyak yang mengakibatkan melambungnya harga BBM)

Seorang Pemulung yang sedang naik perahu mengumpulkan sampah di sungai di Jakarta yang dipenuhi Sampah, termasuk sampah kantung plastik

Bhutan, negara kecil di pegunungan Himalaya (di Asia Tengah dekat India) dalam Peringkat Kebahagiaan Dunia dinyatakan sebagai "negara berkembang yang penduduknya paling berbahagia" di dunia. Pemerintah Bhutan melarang Kantung Plastik dan Rokok karena memandang produk itu membuat warganya tidak bahagia.

Apa yang Bisa Kita Lakukan ?

Dimulai dari diri kita sendiri ( jangan remehkan yang kecil, karena tanpa sesuatu yang kecil tdk mungkin ada sesuatu yang besar). Jangan remehkan diri anda sendiri
Carrefour green bag

- Bantu selamatkan bumi dengan membawa Tas sendiri saat berbelanja ke supermarket atau ke pasar tradisional (Ingatlah "kebiasaan baik" dari Ibu atau Nenek kita yang dulu ketika berbelanja ke pasar tradisional, selalu membawa sendiri Tas Belanja dari rumah). Sebaiknya gunakan Tas Ramah Lingkungan yang terbuat dari bahan kain yang dapat didaur-ulang (seperti Tas Belanja Ramah-Lingkungan "Lestari Lingkunganku" ).
Kini mulai tersedia "Kantung Plastik Ramah Lingkungan" (Bio-Degradable Plastic Bag) yang terbuat dari tepung singkong (maizena) dan dapat terurai 6 bulan sampai 5 tahun (bandingkan dengan plastik biasa yang baru terurai setelah 500 – 1.000 tahun). Namun ketersediaannya masih terbatas dan masih mahal (Rp. 1.000 per lembar)
- Bawalah selalu Tas Ramah Lingkungan itu (di mobil atau di motor) sehingga selalu tersedia kapanpun Anda membutuhkannya. Jadi tidak alasan, Anda "terpaksa" menerima kantung plastik
- Jika hanya membeli sedikit, mulailah mau/berani menolak "pemberian" kantung plastik dari toko dan masukkan barang belanjaan ke dalam tas Anda. Ingat, kantung kresek adalah "bonus" yang tak berguna
- Kurangi penggunaan kantong plastik kresek SEKARANG JUGA. Jika belum dapat menghentikan secara total, lakukanlah secara bertahap, misalnya hanya untuk digunakan untuk membuang sampah di tempat sampah (menjadi plastik sampah / trash bags)
- Jangan jadi "penimbun" dan "kolektor" kantung plastik tak terpakai yang memenuhi rumah anda. Segera enyahkan dari rumah alias "cuci gudang"(*caranya lihat di bawah).
- Anjurkan keluarga, teman, dan tetangga untuk mengurangi pemakaian kantung plastik, dengan menjelaskan bahaya-bahaya yang ditimbulkannya. Jadilah "agen" penyelamat lingkungan.

Tas Belanja Ramah-Lingkungan
Made in Summarecon

Dengan merubah kebiasaan kecil,
Kita akan berkontribusi dalam
pelestarian lingkungan

Anda bisa kalau anda mau
Anda bisa kalau anda perduli
Save the earth

Eksekutif bergaji Rp 8,8 M bangkrut, kini jadi pengantar pizza


Dari Zawal Syanjury

Hidup Ibarat roda yang berputar...


Teman-teman, ada kisah menarik yang saya temukan di salah satu milis yang saya ikuti, mudah-mudahan bisa menjadi bahan renungan kita semua. Berikut ini kisahnya:
Krisis ekonomi di AS membuat seorang eksekutif bergaji Rp 8,8 miliar per tahun jatuh bangkrut. Untuk bertahan hidup, sang eksekutif pun akhirnya menjadi pengantar pizza dengan upah rendah. RESESI di Amerika Serikat memang begitu kejam. Tak hanya raksasa bisnis yang silih berganti bertumbangan. Bagi warganya pun, krisis kali ini benar-benar bisa mengubah nasib mereka 180 derajat. Tengok saja apa yang terjadi pada seorang eksekutif bernama Ken Karpman ini.

Selama 45 tahun, hidup Ken Karpman tampaknya nyaris sempurna.
Lulus dengan gelar sarjana S-1 dan MBA (Master of Business Administration)
dari universitas bergengsi UCLA ( University of California ), Karpman
langsung mendapat kerjaan dengan gaji yang menggiurkan sebagai pialang
saham.

Dia pun bisa menikahi perempuan idamannya, Stephanie dan dikarunai dua anak.
Mereka pun rutin berlibur ke tempat-tempat mahal di penjuru dunia.

Setelah 20 tahun meniti karir sebagai pialang, Karpman pun naik jabatan
menjadi eksekutif perusahaan. Gajinya pun naik menjadi US$750.000 (sekitar
lebih dari Rp 8,8 miliar) per tahun.

"Saat itu hidup begitu indah. Kami bisa cetak banyak uang. Entah mengapa
situasi itu kok tidak berlanjut?" kata Karpman dalam wawancara khusus dengan
stasiun televisi ABC.

Dari segala sisi, Karpman dan keluarga saat itu hidup dalam "Impian Amerika"
(American Dream). Mereka tinggal di sebuah rumah besar di kota Tampa ,
Florida . Rumah mereka pun dilengkapi lapangan golf.

"Saat itu saya sudah tidak tahu berapa harga barang-barang di toko.
Pokoknya, tinggal bawa troli dan ambil saja," kata Karpman.

Dia pun begitu percaya diri dengan kemampuannya mencetak banyak uang. Maka,
tahun 2005 dia meninggalkan perusahaan tempat dia bekerja dan membuat usaha
sendiri yang sejenis.

Untuk mendirikan perusahaan sendiri sekaligus meningkatkan taraf hidup, dia
Karpman dengan enteng mengeluarkan dana US$500.000 dari tabungannya. .
Seperti kebiasaan orang-orang Amerika, Karpman juga mengajukan kredit dalam
jumlah besar dengan jaminan rumah.

Namun, badai krisis keuangan menerpa Amerika Serikat (AS). Karpman tak mampu
menarik investor, sehingga perusahaannya bubar.

Sejak saat itu, dia menjadi penganggur dan sulit mendapat kerja. Padahal, di
masa lalu, Karpman tak perlu pusing mencari kerja.

"Dulu, saat menjalani tes wawancara kerja, saya bisa jadi bersikap kurang
ajar, karena justru sayalah yang sering menanyai si pewawancara, apakah
perusahaannya cukup layak mempekerjakan saya," kata Karpman dalam wawancara
yang ditayangkan di stasiun televisi ABC.

"Sekarang, justru saya yang kini berharap-harap minta kerja sambil memegang
topi di tangan," lanjut Karpman.

Saat dia susah mendapat kerja, tabungannya ludes untuk keperluan hidup
sehari-hari dia dan keluarga. Bahkan, keluarga Karpman kini harus menanggung
utang ratusan ribu dolar dan rumah mewah terancam disita pihak kreditur.

Mereka pun tak mampu menanggung biaya pendidikan anak-anak di sekolah swasta
yang mencapai US$30.000 (Rp 352,3 juta). Namun mereka bersyukur ada seorang
dermawan yang membantu membiayai uang sekolah anak-anak mereka hingga tahun
depan.

Maka, Karpman sudah bertekad, kerja apapun akan dia lakukan, asalkan
mendapat uang. Dia pun bersedia turun derajat. Karpman tak lagi mencari
posisi-posisi yang tinggi, maka dia sempat melamar sebagai bartender (peramu
minuman), namun ditolak. Istrinya, Stephanie, kini juga akan menjual
baju-bajunya yang bertumpuk-tumpuk di lemari pakaian di toko-toko loak.

Akhirnya Karpman mendapat kerjaan baru. Namun, bukan lagi sebagai eksekutif,
melainkan sebagai pengantar pizza (roti isi khas Italia) di restoran Mike's
Pizza & Deli di kota Clearwater.

Pemilik restoran, Mike Dodaro, bingung saat melihat Karpman datang ke
tempatnya untuk wawancara kerja dengan mengendarai mobil mewah Mercedes
Benz. Dodaro pun terkejut saat membaca CV (riwayat pendidikan dan pekerjaan)
Karpman.

Untuk menjadi pengantar pizza dari rumah ke rumah tak perlu harus bergelar
MBA dan berpengalaman sebagai manajer pialang saham. Dengan kata lain,
Karpman tergolong over-qualified (bobot pendidikan dan pengalaman kerja
terlalu tinggi untuk posisi kerja yang dia lamar).

Namun, Karpman tetap mengambil lowongan itu. Dia rela kini digaji US$7,29
atau sekitar lebih dari Rp.85.000,- per jam - belum termasuk tips. Karpman
pun tak peduli dengan reaksi istrinya yang kaget dengan profesi suaminya
saat ini.
“Kamu tidak bercanda, kan?” kata Stephanie. “Mengantarkan pizza. Tidak pernah terpikirkan olehku, bahkan dalam mimpi terliarku sekalipun untuk melakukan itu,” lanjutnya.
Gaji Karpman terjun bebas. Dari enam digit per jam menjadi hanya USD 7,29 (RP. 85.000) per jam plus tips, satu angka yang terbilang sangat kecil untuk ukuran AS.
Namun itu adalah uang yang sepatutnya ia syukuri. “Ini adalah proses terjun bebas, luar biasa bagaimana begitu banyak hal yang Anda katakan, ‘saya tak bisa melakuan itu’ untuk menolak karena gengsi, tapi seminggu kemudian anda katakan, ‘Ya… saya bisa melakuan itu,’” ujarnya.. “Saya tidak akan meniti karir di bidang ini, namun akan mendapatkan sesuatu yang lebih di masa depan, itu yang akan saya lakukan untuk tetap menjaga agar dapur tetap mengepul,” lanjutnya.
Tekanan ini memang sempat memberi sedikit dampak pada pernikahan mereka. Stephanie mengatakan dirinya tidak ingin suaminya meninggalkan pekerjaan sebagai pialang dan berharap suaminya itu punya tabungan yang lebih. Tapi itulah fakta yang harus diterimanya. “Tidak perlu bertanya di mana
letak kesalahannya,” ujar Ken Karpman. Dan ketika harus menunjuk kambing hitam, “Saya akan menunjuk ke arah saya,” tegasnya.

Dari pengalamannya ini, Karpman menyadarai, setiap hari membawa satu pelajaran baru dalam kehidupan dengan sedikit harta dan lebih banyak kerendahan hati. “Pizza adalah langkah maju,” tandasnya. Saat Karpman menghitung setiap sen yang dia terima, dia masih berharap bisa kembali ke posisinya yang dulu dan kembali ke gaya hidup papan atas yang sekan tak bisa lepas dari tangan. “Saya butuh beberapa kemenangan,” ujarnya. “Semoga, itu akan segera kembali,” lanjutnya.

STOP SMOKING PLEASE.

IKLAN ANTI ROKOK: